Tak banyak yang mengenal sosok Armyn Angkasa Alianyang. Putra asli daerah Kalbar ini kini menjabat sebagai Kasdam XII/Tanjungpura. Kepulangannya ke kampung halaman membawa kesan tersendiri bagi pria dengan pangkat Brigjen TNI ini. Karena banyak kenangan yang tak dapat dilupakannya sampai sekarang.
WAHYU ISMIR JK, PONTIANAK
SIAPA yang tak kenal Alianyang. Pejuang asal nanga pinoh ini merupakan pahlawan nasional Kalbar. Meskipun tidak mengikuti pendidikan militer, tetapi berkat kegigihannya melawan penjajah, Alianyang diberikan pangkat reguler sebagai Sersan. Sejak saat itu, Alianyang masuk ke dalam TNI Angkatan Darat.
Jejak Alianyang sebagai tentara diikuti sang putra, Armyn Angkasa Alianyang.
Ia adalah putra ke tiga almarhum Alianyang. Meskipun memupunyai seorang ayah pahlawan nasional, tetapi secara mendetail, sosok Alianyang tak diketahuinya.
”Bapak saya (Alianyang-red) meninggal tahun 1970, dimana saat itu saya baru kelas satu SMP, sehingga hanya tahu mengenai beliau secara umum saja. Bahkan mengenai perjuangannya saya banyak mendengar dari teman seperjuangannya,” jelas Armyn.
Meskipun lahir di Singkawang 54 tahun yang lalu, sebagian masa kecilnya dia habiskan di Kota Pontianak. Bahkan setahuhn setelah kelahirannya, dia dibawa orang tuanya ke Jawa Barat. Pada tahun 1961, mereka sekeluarga kembali lagi ke Kota Khatulistiwa ini sampai Alianyang meninggal. Setelah itu dia kembali menghabiskan waktu sekolahnya di Singkawang sampai tamat STM.
”Waktu kembali ke Pontianak, saya bersekolah di TK dan SD Nurali, sampai kelas 1 SMP Bapak meninggal. Dan saya melanjutkan pendidikan di tempat kelahiran saya,”ujar dia.
Selama di Pontianak, banyak kenangan yang tak bisa Armyn lupakan. Salah satunya pada saat Armyn bersampan bersama temannya dari depan asrama Hidayat sampai ke sungai Kapuas. Setelah itu berenang bersama teman-temannya. Tak hanya berenang, ternyata bersama teman-temannya tersebut, Armyn terkadang mencuri beras di kapal pengangkut beras. Selain itu, dia mengaku juga suka berperang dengan anak-anak di sekitar Makam Pahlawan menggunakan ketapel.
”Maklumlah kenakalan masa kecil. Tetapi ya itulah kesan semasa kecil saya. Apalagi anak tentara,” kenangnya sambil tersenyum.
Tetapi kenakalan tersebut tak membuatnya menjadi sosok yang nakal pada saat dewasanya. Mendapat inspirasi dari sang ayah sebagai seorang tentara, membuat dirinya tergerak untuk meneruskan jejak sang ayah. Setelah masuk Akabri tahun 1976 sampai 1980, banyak jabatan penting di TNI yang pernah digelutinya, terutama di Kalbar diantaranya Danyon 643, Kasiops Korem 121/ABW, dan terakhir Kasdam XII/Tanjungpura.
”Masuknya saya menjadi tentara memang terinspirasi dari ayah, karena dulu kehidupan di asrama, maka sebagai anak kolong sangat terpengaruh bagi seorang anak untuk menjadi tentara. Kalau kuliah dulu susah dan sangat terbatas. Sehingga saya meneruskan untuk meneruskan jejak Ayah,” ungkap dia
Meskipun mengenal sang ayah dengan waktu yang sangat singkat, tetapi Armyn sangat ingat akan pesan Alianyang, bahwa seorang laki-laki harus tegas dan bertanggung jawab. Jangan pernah menyerah dengan keadaan dan cengeng. Karena menurut Armyn, hal tersebut merupakan modal setiap orang dalam menjalani kehidupan. Terlebih laki-laki sebagai calon pemimpin, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
”Hal tersebut terbukti. Karena selama menjadi kepala keluarga, ayah tak pernah mengeluh. Sampai beliau menjadi ketua DPRD dan pemuka masyarakat, dimana itu merupakan kepercayaan masyarakat Kalbar,” pungkasnya.(*)